Tampilkan postingan dengan label Bawang Merah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bawang Merah. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Maret 2013

Solusi Mengatasi Hama & Penyakit Pada Bawang Merah



Pada usaha pertanian khususnya hortikultura, sangatlah penting langkah-langkah dalam penanggulangan hama dan penyakit.
Jika masalah ini tidak segera teratasi, masalah produktivitas akan menurun tajam bahkan bisa terancam gagal panen.
Sudah seyogyanyalah para petani bawang merah untuk mewaspadai masalah hama dan penyakit tersebut. Berikut ini akan kami berikan macam-macam hama dan penyakit yang menyerang tanaman bawang merah beserta pencegahannya.

ULAT BAWANG

Gejala :
Gejala serangan ditandai dengan bercak putih transparan pada daun, karena daging daun dimakan ulat.

Pengendalian :
Pengendalian dapat menerapkan konsep PHT, antara lain : secara mekanik dengan mengumpulkan dan memusnahkan telur dan larva yang biasa disebut jempoli. Sedangkan penyemprotan dengan insektisida efektif dan selektif mulai dilakukan bila kerusakan tanaman mencapai 5%.

Frekuensi penyemprotan 2 - 3 hari sekali atau tergantung kondisi serangannya. Sebaiknya menggunakan pestisida secara bergantian dan agar dihindari mencampur bermacam-macam insektisida menjadi satu karena tidak efektif serta takaran yang digunakan tidak perlu berlebihan.

Sebaiknya menggunakan takaran sesuai petunjuk penggunaannya pada masing-masing obat. Selain itu dapat memasang perangkap yang dilengkapi dengan sex feromon untuk menangkap serangga jantan, sejumlah 40 perangkap / ha.

Perangkap dapat berupa botol plastik berlubang kecil dan didalamnya diikat satu tangkai sex feromon, yang dapat diganti sebulan sekali.

Dengan demikian serangga jantan akan tertangkap sehingga perkawinan akan berkurang dan mengurangi populasi ulat.

PENYAKIT LAYU FUSARIUM
Gejala :
Penyakit ini ditandai dengan tanaman kurus kekuningan dan busuk pangkal serta akarnya sehingga tanaman mudah tercabut.

Pengendalian :
Tanaman yang terserang harus segera dicabut dan dimusnahkan. Untuk pengendalian dapat dilakukan dengan memberikan obat / fungisida pada tanah sebelum tanah ditanami.

BERCAK UNGU
Gejala :
Ditandai dengan adanya bercak putih dengan pusat keunguan pada daun.

Pengendalian :
Pengendalian dengan cara menyiram tanaman setelah turun hujan atau terkena embun, untuk mengurangi spora penyakit yang menempel pada daun. Selain itu dapat menggunakan fungisida selektif dan efektif. menggunakan blecher 250 EC+ brantacol 70 WP

ANTRAKNOSE
Gejala :
Tanaman yang terinfeksi akan mati dengan cepat dan mendadak. Pada daun terlihat bercak berwarna putih, selanjutnya terbentuk lekukan ke dalam, berlubang dan patah.

Pengendalian :
Penyakit ini cepat sekali menular, sehingga harus segera digunakan fungisida yang efektif dan selektif. menggunakan 250 EC

Sebaiknya penyemprotan terhadap hama dan penyakit dilakukan sebelum matahari terbit atau sore hari dengan arah penyemprotan searah angin dan penyemprotan tepat mengenai tanaman / sasarannya sehingga pestisida yang disemprotkan tidak terbuang percuma dan lebih efisien.
potret pertanian.
 
Sumber : http://www.potretpertanianku.com


Kamis, 31 Januari 2013

Menanam Bawang Merah Sebesar Telur

MENANAM BAWANG MERAH
SEBESAR TELUR, MERAH MERONA & BEBAS PENYAKIT
 
 
Berawal dari mengikuti Dialog Interaktif Pertanian di TVRI yang dibawakan oleh Formulator Organik, Wayan Supadno (Hp. 0811763161/www.bangkittani.com) bersama Dosen sekaligus Praktisi Pertanian Budidaya bawang merah di Cirebon, Bpk. K. Sukanata (Hp. 081902504231) dan Petani bawang merah asal Brebes, Bpk. Sugeng (Hp. 081586386710) yang bertema Kiat Cepat Sehatkan Tanah dan Cara Aplikasi Pertanian Organik. Bpk. Djangkung (Hp. 082141418453) kemudian mempraktekkan tips-tips yang sudah dipraktekkan dalam acara tersebut pada tanaman bawang merah miliknya di Pasuruan, Jawa Timur. Hasilnya panen yang sebesar telur dan berwarna merah merona itu menjadi tontonan masyarakat petani bawang dari berbagai daerah. Pak Djangkung mulai sadar tanahnya sakit kronis seperti yang diuraikan oleh Wayan Supadno yaitu, ditunjukkan dengan gejala tanah semakin sulit menahan air, tanaman kerdil, rentan penyakit, kebutuhan pupuk yang terus meningkat tajam dalam luasan yang sama tetapi hasil semakin menurun, akibatnya laba bersih sangat tipis dan resiko tinggi untuk gagal jika terkena penyakit, maka Ia terapkan tips Wayan Supadno, kombinasi pupuk non organik, pupuk bio organik ORGANOX, pupuk hayati Bio-EXTRIM, dan ZPT/ hormon organik HORMAX.
Saat pengolahan tanah/ pra tanam (3 hari sebelum tanam), kombinasikan minimal 1 ton pupuk kandang dengan ORGANOX dan Bio-EXTRIM, masing-masing 5 liter secara merata. Aplikasikan juga HORMAX dengan cara semprot secara kabut dengan dosis 2.5 tutup botol/tanki 14 liter pada umbi dan daun setiap lima hari sekali. Pemberian pupuk kimia cukup sekali saja saat seminggu setelah tanam dengan dosis 4 kg NPK Majemuk yang dilarutkan dalam 200 liter air. Tujuannya untuk mendorong pertumbuhan dan sebagai bekal nutrisi dalam tanah. Nutrisi tersebut akan diurai oleh mikroba yang terkandung dalam Bio-EXTRIM & ORGANOX kemudian berkembang biak dalam tanah. Azotobacter sp.,Azospirillum sp., dan Rhizobium sp. berperan dalam menambat Nitrogen (Rao, 1994), sedangkan bakteri Pseudomonas sp. dan Bacillus sp. mempunyai kemampuan tinggi dalam melarutkan Fosfat dan Kalium (Rodriquezz dan Fraga, 1999). Pupuk kandang dan ORGANOX yang mengandung C-Organik sangat tinggi berperan sebagai media biak mikroba sekaligus tambahan bahan organik dalam tanah. Dengan demikian tanah lebih sehat dan nutrien tanaman tersaji lebih banyak.
Penggunaan HORMAX menjadikan tanaman Pak Djangkung daunnya lebih tegak, tidak mudah patah, dan umbinya besar-besar. Wajar saja, karena dalam HORMAX mengandung Auksin yang berfungsi memperbanyak perakaran, sehingga asupan nutrisi maksimal, hormon Sitokinin yang berfungsi mendorong pembelahan sel (sitokinesis), menjadikan ukuran umbi lebih besar, serta Giberellin yang menjarangkan jaringan antar sel. Juga wajar saja jika tanamannya lebih sehat (aman), karena dalam Bio-EXTRIM & ORGANOX mengandung Bacillus sp. yang bertindak sebagai imunomodulator (Isolauri et al., 2001) dan menghasilkan zat antibiotik (Rao, 1994), membentuk imunitas dalam diri tanaman sehingga terhindar dari penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri.
Melalui hubungan via telepon, Pak Djangkung juga mengeluhkan jika adanya hama seperti ulat, rayap, dan semut yang menyerang tanaman bawangnya. Wayan Supadno menyarankan agar menggunakan pestisida nabati, disemprot dengan air rebusan sereh wangi. Alasannya, daun sereh wangi mengandung geraniol dan citronella yang pada konsentrasi tinggi memiliki keistimewaan sebagai anti feedant, sehingga rayap tidak bergairah memakan tanaman, sedangkan pada konsentrasi rendah bersifat sebagai racun perut yang bisa mengakibatkan rayap mati (Kardinan, 1992). Selain itu geraniol dan citronella juga merupakan bahan aktif yang tidak disukai dan sangat dihindari serangga (insect repellent), sehingga penggunaan bahan-bahan ini sangat bermanfaat sebagai bahan pengusir serangga (Yunus, 2008).

Sumber: http://bangkittani.com

Budidaya Bawang Merah Secara Organik

Cara Budidaya Bawang Merah Secara Organik

Dengan terjadinya krisis pupuk yang harganya menjadi mahal bahkan ada yang naik 3 kali llipat sehingga petani tidak mampu membelinya. Biaya untuk bertanam menjadi semakin tinggi sedangkan hasilnya yang diperoleh semakin lama semakin berkurang. Sehingga kerugian sering menerpa para petani kita. Maka harus di cari jalan keluar agar biaya tanam yang murah tapi hasil yang diperoleh semakin bagus, banyak dan berkualitas baik. Sebenarnaya teknik budidaya dengan sistem organik sudah lama diterapkan, tetapi terkikis dengan adanya pupuk pestisida. nah dengan harga pupuk yang semakin mahal dan semakin langka adanya, maka pilihannya dengan kembali denagan memnggunakan pupuk organik. selain hasil yang bagus tetntusaja biaya yang dikeluarkan semakin sedikit. yang paling penting adalah ramah lingkungan.



Menanam Bawang Merah Secara Organik

  1. Tanah dicangkul agak dalam dan rumputnya diambil (kebruk kalet: bahasa petani Batu), selanjutnya digulut dengan lebar 80 cm.
  2. Guludan ditaburi pupuk kandang
  3. Pupuk kandang ditutup dengan tanah dan permukaan guludan dibuat rata. Pada musim penghujan permukaan guludan dibuat agak lebih tinggi agar tidak terendam air hujan. Tinggi guludan pada musim kemarau 30 cm dan musim hujan 40 cm.
  4. Bibit yang sudah siap kemudian ditanam pada guludan (diponjo) dengan jarak 20 cm, kemudian ditutup menggunakan daun pahit-pahitan (daun yang rasanya pahit).
  • Tahap selanjutnya adalah penyiangan, menggemburkan tanah dan menguruk tanaman tipis-tipis sesuai dengan pertumbuhan tanaman.
  • Pemberantasan hama dan penyakit menggunakan rendaman daun pahitan dan bawang putih.
  • Setelah cukup umur tanaman dicabut, diikat dan selanjutnya disiger.
 Hasil yang Diperoleh
  1. Penanaman pada waktu musim kemarau (dengan disiram), dengan bibit sebanyak 15 kg menghasilkan panen sebanyak 60 kg.
  2. Penanaman pada musim hujan, dengan bibit sebanyak 50 kg menghasilkan panen sebanyak 200 kg.
Kendala dan Manfaat
Selama proses penanaman berlangsung selalu dibayangi keraguan karena seolah-olah menentang arus, meskipun dengan sistem pertanian organik berarti mengikuti hukum alam.
Paguyuban belum mampu memasarkan hasil panen sehingga terpaksa saya menjualnya seharga produk konvensional.

Kesimpulan
Bertani dengan sistem organik harus titen dan telaten sehingga pasti panen. Dengan sistem pertanian organik biaya yang dikeluarkan rendah, pengerjaan tanah mudah karena gembur. Sudah waktunya petani beralih sistem, meninggalkan sistem konvensional yang merugi dan merusak lingkungan, dengan sistem pertanian organik yang lestari.
Sumber : http://budidayanews.blogspot.com

Minggu, 27 Januari 2013

Budidaya Bawang Merah dengan Biji (Varietas Tuk-Tuk)


TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG MERAH DARI BIJI

I.       PENDAHULUAN
Sampai saat ini petani bawang di Bali masih menggunakan umbi bibit untuk bahan tanaman. Bibit yang berasal dari umbi produktivitasnya relatif tidak berubah. Peningkatan produksi hanya dapat dilakukan melaui perbaikan kultur teknis, dan suatu ketika akan dapat mengalami penurunan. Disamping itu, penggunaan umbi bibit dapat menyebabkan biaya produksi tinggi terutama biaya untuk pengadaan benih, sehingga dapat mengurangi minat petani untuk mengusahakannya.
Terkait dengan hal tersebut diatas, saat ini telah ada varietas baru bawang merah (TUK-TUK) dengan produktivitas tinggi dan dapat ditanam melalui biji serta harga benihnyapun terjangkau.

II.      KEBIJAKAN / STRATEGI
Strategi yang ditempuh adalah meningkatkan produktivitas lahan pertanian melalui antara lain : pemilihan jenis komoditas pertanian yang bernilai ekonomis tinggi dan sesuai dengan agroklimats setempat, penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk (anorganik dan organik) dan penggunaan pestisida (anorganik dan organik).

III.     POTENSI DAN MASALAH
Potensi
Sentra penghasil bawang merah di Bali tersebar di Kabupaten Bangli, Karangasem, Buleleng, Klungkung dan sedikit di Jembrana. Rata-rata luas pertanaman bawang merah dalam 5 tahun terakhir (2005 – 2009) adalah 1165,6 hektar dengan rata-rata produktivitas 94,95 kw/hektar dan rata-rata produksi baru mencapai 11024,6 ton.
Produktivitas bawang merah di Bali masih mungkin untuk ditingkatkan dengan penerapan panca usahatani, karena salah satu sentra produksi bawang merah telah mampu mencapai produksi lebih dari 10 ton/hektar protolan basah dan untuk varietas TUK-TUK mampu berproduksi 30 ton/hektar protolan basah.

Masalah
Petani banyak yang berminat menanam bawang merah, namun karena biaya produksi terutama biaya untuk penyediaan bahan tanaman berupa bibit dari umbi sangat tinggi sehingga petani sering terkendala dengan permodalan yang dimiliki. Sebagai perbandingan bahwa kebutuhan bibit dari umbi untuk keperluan penanaman 1 Ha sebanyak 1.000 kg dengan nilai Rp 15.000.000,-, sedangkan penggunaan benih dari biji cukup memerlukan 4 kg biji dengan nilai Rp 4.000.000,- untuk keperluan 1 Ha.


IV.    CARA BUDIDAYA
a.    Pesemaian
  • Buat bedengan dengan lebar 1 m, tinggi 40-50 cm, dan panjang menyesuaikan, jarak antar bedengan 50 cm. 
  • Campur tanah bedengan dengan pupuk kandang 2 kg/m2dan kapur pertanian 150 gr/m2, SP 18 100 gr/m2, dan KCl 50 gr/m2.
  • Taburi bedengan dengan sekam padi setebal 10 cm lalu dibakar dan selanjutnya dibiarkan selama 1 hari.
  • Ratakan bedengan, beri pupuk yang telah dipersiapkan kemudian aduk secara merata dengan tanah permukaan bedengan.
  • Buat alur melintang dengan jarak 5-10 cm dan kedalaman 1 cm.
  • Taburkan biji bawang merah ke dalam alur sebanyak 150-200 biji/alur, kemudian tutup alur dengan tanah halus.
  • Kecambah akan muncul 5-10 hari setelah semai.
  • Bila musim hujan sebaiknya bedengan ditutup dengan sungkup plastik selama 3-4 minggu.


b.    Pengolahan Tanah
  • Lakukan pengolahan tanah 2-4 minggu sebelum penanaman dengan kedalaman olah 25 cm.
  • Buat bedengan dengan ukuran lebar 120 cm, tinggi 40-50 cm, dan panjang menyesuaikan dengan keadaan lapangan.
  • Berikan pupuk dasar berupa pupuk ZA sebanyak 952 kg/Ha, SP 18 sebanyak 1.000 kg/Ha, pupuk KCl sebanyak 383 kg/Ha, 3 hari sebelum tanam sebanyak ½ dosis.
  • Pupuk disebar merata diatas permukaan bedengan dan dicampur secara merata dengan tanah permukaan bedengan.
  • Pasang mulsa plastik hitam perak dengan warna hitam menghadap permukaan bedengan.
  • Lubangi mulsa plastik dengan jarak 10 cm x 10 cm dengan menggunakan kaleng susu yang didalamnya diberi bara api.
c.    Penanaman
  • Lakukan penyiraman pada bedengan/lubang tanam terlebih dahulu untuk memberikan kelambaban tanah.
  • Tanam bibit yang telah berumur 40-50 hari, 1 lubang 1 bibit. Tekan tanah disekitar pangkal tanaman dengan lembut supaya akarnya menyatu dengan tanah.
d.    Pemeliharaan
  • Pada awal pertumbuhan sampai umur 3 minggu penyiraman rutin pagi dan sore hari, terutama sehabis hujan.
  • Lakukan pemupukan susulan ¼ dosis masing-masing pada umur 30 hari dan 55 hari sejak tanam.
  • Pengendalian hama penyakit
  • Bercak ungu (Alternaria porii) dengan gejala serangan bercak kecil, cekung, warna putih hingga kelabu. Pengendalian dengan penyemprotan menggunakan air bersih sehabis hujan, atau menggunakan fungisida yang berbahan aktif tembaga hidroksida.
  • Bercak daun Cercosphora, dengan gejala bercak klorosis bulat warna kuning. Dikendalikan dengan fungisida yang sesuai.
  • Ulat dengan gejala serangan daun bila diteropong tampak bekas dimakan ulat. Dapat dikendalikan dengan insektisida berbahan aktif klorfirifos.
e.    Panen dan Pasca Panen
  • Panen dilakukan saat tanaman berumur 65-75 hari setelah tanam, ditandai dengan daun sudah mulai rebah dan umbi tersembul ke permukaan tanah. Cara memanen adalah dengan mencabut tanaman dan menjemurnya dibawah terik matahari langsung atau diletakkan diatas para-para.
  • Untuk dapat bertahan 1-2 tahun bila penanganan pasca panennya baik. Salah satu cara penyimpanan yang baik adalah dengan menyimpan diatas para-para.