Kamis, 21 Februari 2013

Organik Solusi Hidup Sehat

Bahan Organik, Solusi Super Yahud

Tubuh kita telah terkontaminasi oleh racun. Dan, racun-racun itu berasal dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Ya, residu pestisida, sisa hormon pemacu pertumbuhan, kandungan antibiotik, monosodium glutamate (MSG), bahan pengawet, dan bahan tambahan lain berdampak negatif terhadap tubuh kita.

Jika terkonsumsi, bahan-bahan itu harus dikeluarkan dari tubuh melalui sistem ekskresi tubuh. Namun apabila organ-organ ekskresi bekerja terus-menerus tentu bakal berdampak pula. Lalu, muncullah penyakit ringan seperti influenza hingga yang sistemik seperti diabetes, kolesterol, hipertensi, bahkan kegagalan fungsi organ yang merupakan ancaman jangka panjang lantaran mengonsumsi makanan tidak sehat.

Salah satu jalan yang bisa meminimalisasi ancaman itu adalah pola hidup sehat. Itu bisa dimulai dengan mengonsumsi makanan yang minim racun atau toksin. Makanan itu dikenal sebagai makanan organik, yakni makanan bebas bahan tambahan yang diproses dengan metode, material, dan manipulasi buatan, seperti pematangan secara kimiawi, radiasi makanan, dan modifikasi genetik.

Makanan organik bermanfaat karena membuat kerja organ tubuh menjadi lebih ringan. Dampak jangka panjangnya, daya tahan tubuh pun meningkat. Konsumen produk organik akan merasakan tubuh mereka lebih bugar dan tak mudah terserang penyakit.

Dampak positif lain, bisa menurunkan risiko gejala alergi, asma, jerawat, dan dermatitis. Orang-orang dengan alergi yang mengonsumsi produk organik pun akan merasakan gejala penyakit itu menjadi lebih jarang timbul.

Makanan organik harus memenuhi kriteria standar yang sudah ditetapkan. Makanan berlabel organik harus diproduksi tanpa tambahan hormon, herbisida, pestisida, antibiotik, atau penyubur yang dibuat dari bahan-bahan tidak alami. Tentu beralih dari yang serba gampang (bahan anorganik) ke bahan organik tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Bila kita menghendaki hidup sehat dan ramah lingkungan ada pilihan yang ditawarkan, yaitu menggunakan bahan-bahan alami untuk mengusir atau menghalau musuh-musuh alami yang menyerang tanaman, tanpa harus mematikannya. Jadi siklus ekosistem tetap terjaga. Banyak bahan alami bisa dipergunakan. Berenuk, misalnya, bisa dipakai untuk mengusir tikus, kutu daun, dan wereng. Tembakau efektif untuk mengusir ulat dan belalang.

Adapun kenikir, pandan, kemangi, cabai rawit, kunyit, bawang putih, dan bawang merah untuk mengenyahkan ulat, wereng, dan kutu daun. Gadung, kunyit, susu, minyak ikan, dan sereh bisa memengaruhi sistem saraf sehingga bisa digunakan untuk menghilangkan serangga dan bersifat antireproduksi. Tuba, selasih, picung, sembung, srikaya menjadi racun perut dan racun kontak penolak serangga serta penghambat peletakan telur dan mengurangi nafsu makan serangga.

Bahan alami lain adalah mindi, yang bisa menjadi penolak serangga, menghambat pertumbuhan, memengaruhi sistem saraf, respirasi sebagai racun perut dan kontak. Batrawali sebagai pengusir, racun saraf, dan penghambat perkembangan serangga.

Surian untuk mengurangi aktivitas makan dan mengganggu sistem reproduksi serangga dan mengusir hama. Masih banyak lagi bahan alami dapat digunakan untuk membuat insektisida alami. Bila melihat bahan-bahan tersebut, semua ada di lingkungan kita. Jadi mudah didapat dan murah. Dan, yang pasti, aman karena tidak beracun.

Sumber: http://suaramerdeka.com

Budidaya Tanaman Organik

Memahami Sistem Pertanian Organik

Memahami Sistem Pertanian Organik - Sistem pertanian organik sekarang ini sudah dikenal luas karena hasil yang lebih sehat dan bebas pestisida, yuk kita simak saja ulasannya berikut ini:

A. Pemahaman Sistem Pertanian organik
Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang menyebabkan degradasi sumber daya alam tidak dapat dikategorikan sebagai pertanian organik. Sebailknya, sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik dapat masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak mendapat sertifikasi organik.

B. Manfaat Sistem Pertanian Organik
  • Tanaman yang dihasilkan bebas dari residu atau sisa-sisa pestisida dan bahan kimia lainnya yang disebabkan oleh aktifitas pemupukan.
  • Tanaman yang dihasilkan lebih sehat dan segar.
  • Tanaman yang dibudidayakan secara ogannik ini mampu menjaga kelestarian dan keseimbangan alam.
C. Penerapan Sistem Pertanian Organik
Budidaya tanaman dengan sistem pertanian organik ini pada dasarnya adalah menghindari segala pemakaian bahan kimia terhadap tanah maupun tanaman. Penerapan dari sistem pertanian organik ini adalah:
1. Penggunaan bahan alami untuk kesuburan tanah.
2. Tidak menggunakan bahan kimia dalam budidaya

D. Ciri - Ciri Pertanian Organik 
  • Menyuarakan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi berkesinambungan.
  • Aspek alamiah dan kondisi lingkungan sekitar merupakan sumber penunjang produksi yang utama.
  • Mengurangi penggunaan bahan penunjang dari luar.
  • Rotasi tanaman.
  • Sistem budidaya secara tumpang sari atau polikultur.
  • Pengendalian OPT secara biologis.
  • Varietas tanaman yang resisten.
  • Tidak menggunakan zat kimia.
  • Mencegah erosi dan Pengelolaan air.
  • Daur ulang nutrisi atau unsur hara dari dalam tanah.

E. Tujuan Sistem Pertanian Organik
  • Menghasilkan produk pertanian yang berkualitas tinggi.
  • Membudidayakan tanaman secara alami.
  • Mendorong dan meningkatkan siklus hidup biologi dalam ekosistem pertanian.
  • Memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang.
  • Menghindarkan seluruh bentuk cemaran akibat dari penerapan teknik pertanian.
  • Meningkatkan usaha konservasi tanah dan air serta mengurangi masalah erosi akibat pengolahan tanah yang intensif.
  • Meningkatkan peluang pasar produk organik baik domestik maupun global.

F. Kendala dan Solusi dalam Sistem Pertanian Organik
 
1. Kendala:
  • Adanya hama transmigran dari kebun non-organik yang menyebabkan menurunya produksi.
  • Tanah sudah banyak mengandung residu
  • Tanah untuk pertanian pertanian organik sebaiknya tanah yang masih perawan atau asli sementara banyak penelitian yang menyatakan bahwa tanah pertanian di Indonesia sudah jenuh fosfat. 
  • Pasar terbatas karena hasil pertanian organik hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja.
  • Kesulitan menggantungkan pasokan dari alam, seperti pupuk.
  • Sulitnya meninggalkan kebiasaan petani yang bergantung pada pupuk kimia dan pestisida.
2. Solusi:
  • Sosialisasi pada masyarakatan mengenai pertanianyang ramah lingkungan.
  • Menggalakkan konsumsi produk hasil pertanian organik.
  • Dibutuhkan kajian lebih banyak untuk mendapatkan saprotan (sarana produksi pertanian) organik yang terbaik.
 
Sumber : http://taniternakbudidaya.blogspot.com
 

Jangan Buang Kulit Buah Naga

Jangan Buang Kulit Buah Naga Anda!


Buah naga, atau yang dalam ilmu biologi dikenal dengan nama Hylocereus Undotus, merupakan buah dengan sejarah awal yang panjang. Banyak yang percaya, buah dengan kulit berwarna cerah ini berasal dari Meksiko dan kawasan Amerika Selatan juga Tengah. Tapi tak sedikit pula yang meyakini buah ini berasal dari daratan Asia sebab sejak dahulu kala masyarakat Tionghoa sudah mengenalnya sebagai buah persembahan yang diletakkan di antara patung naga. Meski asalnya masih simpang siur, pada faktanya buah ini telah berhasil disemaikan dan dibudidayakan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Buah naga memiliki banyak khasiat di antaranya menghalau diabetes, membersihkan darah, sebagai sumber vitamin C dan masih banyak lagi lainnya. Tapi, tak hanya buahnya yang berkhasiat. Ternyata, kulit buah naga sama baiknya! Jadi jangan buang kulit buah naga Anda. Sumber kesehatan ada di limbah tersebut. Tak percaya?

Manfaat Kulit Buah Naga
Berdasarkan uji klinis, ternyata tak hanya daging buah naga yang menyimpan sejuta khasiat. Kulitnya yang cerah dan cenderung bersisik juga diketahui mengandung senyawa aktif seperti pentacyclic triyepene taraxast 20ene 3aol dan juga taraxast 12,20(30)dien 3aol. Kedua senyawa ini sangat ampuh menjaga serta melindungi kelenturan pembuluh darah. Bahkan keampuhan ini menyamai obat Troxerutin yang dikenal sebagai obat berbahan kimia yang digunakan untuk melindungi pembuluh darah mikro. Obat ini banyak beredar di pasaran dan populer digunakan untuk mereduksi potensi pembuluh darah pecah. Dengan ditemukannya kandungan pada kulit buah naga ini, tentu akan menjadi alternatif alami untuk mencegah pecahnya pembuluh darah.

Selain memelihara fleksibilitas pembuluh darah, ternyata kulit buah naga juga berperan untuk menghambat pertumbuhan tumor sel tumor B16F10. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Departement of Applied Chemistry National Chinan University.

Konsumsi Kulit Buah Naga
 
Untuk mendapatkan manfaat kulit buah naga ini, bisa dengan cara mengkonsumsi langsung ekstrak kulit buah naga yang banyak beredar di pasaran. Tapi jika Anda tidak takut repot, cobalah mengolah kulit buah naga menjadi teh yang siap seduh setiap saat. Caranya cukup mudah. Ambil kulit buah naga dan potong tipis-tipis. Setelah itu keringkan di bawah sinar matahari selama 1 atau 2 hari, tergantung pada tingkat pencahayaan matahari. Setelah cukup kering, kulit buah naga sudah bisa dikonsumsi dengan cara diseduh layaknya teh. Mulai pagi Anda dengan meminum teh ini. Untuk khasiat lebih optimal, tutup hari Anda, juga dengan satu cangkir teh kulit buah naga sebelum tidur. Khasiatnya sangat baik, selain memelihara pembuluh, juga bisa untuk mereduksi kadar gula darah dan menghaluskan kulit. Selamat mencoba!
 
Sumber : http://tentangbuahnaga.blogspot.com

Hama dan Penyakit Buah Naga Serta Penanganannya

Tanaman Buah Naga sebenarnya termasuk tanaman yang tahan banting dan relatif mudah perawatannya. Tetapi tentunya dalam budidaya selalu ada gangguan hama dan penyakit yang menyerang yang bisa mengakibatkan hasil produksi yang tidak maksimal dan bisa mengalami kerugian. Oleh karena itu harus diperhatikan apabila anda menjumpai gangguan hama dan penyakit yang menyerang tanaman buah naga.

Adapun gangguan hama yang menyerang tanaman buah naga yaitu :

Tungau
Hama Tungau (Tetranychus sp.) akan menyerang kulit batang atau cabang yang merusak jaringan klorofil yang berfungsi untuk asimilasi dari hijau menjadi cokelat. Penanggulangannya dengan menyemprotkan Omite dengan dosis 1-2 gr/ltr air yang dilakukan 2-3 kali seminggu.

Kutu Putih
Tanaman buah naga yang diserang hama kutu putih (mealybug) pada permukaan batang atau cabang akan berselaput kehitaman dan terlihat kotor. Hama ini bisa dikendalikan dengan menyemprotkan Kanon dengan dosis 1-2 cc/ltr air seminggu sekali pada cabang yang diserang. Biasanya dua kali penyemprotan hama kutu putih sudah hilang.

Kutu  Sisik
Hama kutu sisik (Pseudococus sp.) umumnya berada pada bagian cabang yang tidak terkena matahari langsung dan cabang yang diserang hama ini akan terlihat kusam. Hama ini juga bisa diatasi dengan penyemprotan Kanon dengan dosis sama dengan pengendalian hama kutu putih pada sela-sela tanaman yang ternaungi atau tidak terkena sinar matahari.

Kutu Batok
Hama kutu batok (Aspidiotus sp.) menyerang tanaman dengan mengisap cairan pada batang atau cabang yang menyebabkan cabang berubah menjadi berwarna kuning. Pengendaliannya juga bisa menggunakan cara yang sama dengan pengendalian hama kutu putih dan kutu sisik.

Bekicot
Hama bekicot sangat merugikan tanaman buah naga karena merusak batang atau cabang dengan menggerogotinya dan dapat mengakibatkan cabang busuk. Hama ini disebabkan karena kebersihan kebun yang kurang terjaga.

Semut
Pada umumnya semut akan muncul pada saat tanaman buah naga mulai berbunga. Semut mulai mengerubungi bunga yang baru kuncup dan akan mengakibatkan kulit buah nantinya akan berbintik-bintik berwarna coklat yang tentunya harga buah akan menurun dengan kualitas seperti itu. Pengendaliannya dengan menyemprotkan Gusadrin dengan dosis 2 cc/ltr air.

Burung
Gangguan burung pada buah naga umumnya jarang terjadi dan tidak perlu dikuatirkan. Biasanya menyerang buah yang telah masak pada bagian atas.

Penyakit Buah Naga
Penyakit yang menyerang tanaman buah naga terhitung tidak banyak jenis dan penyebabnya. Meskipun demikian, jika tanaman terserang harus segera diatasi agar tidak menyebar ke tanaman yang lain. Berikut ini penyakit buah naga dan penyebabnya serta tindakan pengobatannya :

Busuk Pangkal Batang
Penyakit ini umumnya menyerang pada awal penanaman buah naga, tanaman buah naga sering mengalami pembusukan pada pangkal batang, berwarna kecokelatan dan terdapat bulu putih. Pembusukan tersebut disebabkan oleh kelembaban tanah yang berlebihan sehingga muncul jamur yang menyebabkan kebusukan yaitu Sclerotium rolfsii Sacc. Penyakit ini sering terjadi pada bibit setek yang belum tumbuh akar dalam bentuk potongan.
Pengobatan tanaman buah naga yang terserang penyakit ini dengan penyemprotan Benlate dengan dosis 2 g/ltr air atau menggunakan Ridomil 2 g/ltr air sebulan sekali. Bila muncul gejala kekuningan pada pangkal batang maka segera dilakukan penyemprotan pada seluruh batang dan diutamakan pada pangkal batang yang terserang.
Untuk pencegahan penyakit ini bisa dilakukan pengairan yang disertai dengan penyemprotan fungisida dan Atonik didaerah pangkal batang pada tanaman yang berumur 30 hari pada awal penanaman.

Busuk Bakteri
Gejala tanaman buah naga yang terserang penyakit ini adalah tanaman tampak layu, kusam, terdapat lendir putih kekuningan pada tanaman yang mengalami pembusukan. Penyakit ini disebabkan oleh Pseudomonas sp. Pengobatannya dengan mencabut tanaman yang sakit, kemudian pada lubang tanam diberi Basamid dengan dosis 0,5-1 g dalam bentuk serbuk kemudian pada lubang tanam tersebut ditanam bibit baru.

Fusarium
Penyakit yang disebabkan oleh Fusarium oxysporium Schl. Gejalanya antara lain cabang tanaman berkerut, layu, dan busuk berwarna coklat. Penanggulangannya dengan menyemprotkan Benlate dengan dosis 2g/liter air dalam seminggu 1-2 kali penyemprotan pada bagian batang dan cabang.

Sumber: http://pasarflona.wordpress.com
Nitrogen
Tanaman buah naga yang kekurangan unsur Nitrogen (N) gejalanya adalah pertumbuhan batang dan cabang kecil dan ramping, pertumbuhannya lambat dan panjang cabang atau batang tidak seimbang dengan ukuran diameternya. Warna kulit menjadi pucat hijau kekuningan dan semakin lama terlihat kusam dan mongering. Antisipasinya dengan memberikan pupuk dengan unsure nitrogen yang cukup.

Fosfor
Gejala buah naga yang kekurangan unsur ini adalah batang atau cabang akan berwarna merah keunguan dan semakin lama berubah menjadi cokelat kekuningan. Bentuk buah menjadi tidak normal yaitu berukuran kecil, jelek dan cepat tua.
Untuk mengatasi gangguan tersebut dengan pemupukan dengan unsur Fosfor (P) yang mudah diserap tanaman. Diberikan melalui akar dan daun dengan penyemprotan lebih rutin.

Kalium
Jika tanaman buah naga terlihat lemah atau lembek seperti mengandung banyak air, berwarna hijau terang dan mudah melengkung atau bengkok itu tandanya tanaman tersebut kekurangan unsur Kalium (K). Untuk mengatasinya tanaman diberi pupuk yang mengandung kalium misalnya KCl atau ZK.

Kalsium
Tanaman buah naga yang kekurangan unsur Kalsium (Ca) adalah batang atau cabang berwarna hijau tidak merata dan pada cabang atau batang muda terlihat cepat mengering. Antisipasinya tanaman diberikan pupuk daun yang mengandung unsur Kalsium tinggi.

Magnesium
Gejala tanaman buah naga yang kekurangan unsur Magnesium (Mg) adalah berwarna hijau pucat dan mengering, biasanya terdapat bintik-bintik putih dan bergeripis. Untuk mengatasinya bisa diberikan dolomit melalui akar pada media tanam atau memberikan pupuk daun dengan kandungan Magnesium tinggi.

Mangan
Kekurangan unsur Mangan (Mn) akan menyebabkan tanaman terhambat pertumbuhan cabang atau batangnya, meskipun masih bisa tumbuh tetapi akan menjadi kerdil dan terhenti pertumbuhannya. Untuk mengatasinya diberikan pupuk mikro yang mengandung unsur Mn

Besi
Tanaman buah naga yang kekurangan unsur Besi (Fe) akan menyebabkan cabang atau batang rapuh dan mudah patah, berwarna hijau muda pada tepi cabang dan untuk mengatasinya dengan pemberian pupuk mikro yang mengandung unsure Fe.

Tembaga
Kekurangan unsur Tembaga (Cu) biasanya terjadi pada tanaman yang sudah berbuah, Tandanya antara lain buah menjadi kecil dan kulitnya mengeras dan harus segera diatasi dengan pemberian pupuk yang mengandung unsur Cu.

Seng
Gejala kekurangan unsur Seng (Zn) adalah cabang menjadi pendek dan beruas pendek, tampak bintik-bintik yang akhirnya berlubang.

Boron
Kekurangan unsur Boron akan menyebabkan buah kerdil dan bentuknya tidak normal. Selain itu batang atau cabang akan berwarna coklat kehitaman.

Molibdenum
Batang atau cabang buah naga muda terlihat menguning dan semakin cokelat kemudian mengering itu tandanya kekurangan unsure ini dan harus segera diberikan pupuk dengan menyemprotan yang mengandung unsur molybdenum.

Sumber: http://pasarflona.wordpress.com

Budidaya Buah Naga di Kebun

Pembudidayaan buah naga untuk usaha produksi dilakukan di kebun. Untuk menghasilkan produksi yang maksimal tentu saja harus dengan persiapan yang matang, perawatan yang baik dan penanggulangan gangguan penyakit yang tepat. Berikut ini kegiatan pembudidayaan diulas secara lengkap :

Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah adalah faktor penting yang harus diperhatikan agar tanaman buah naga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Perakaran buah naga memerlukan tanah yang gembur karena perakarannya merayap dipermukaan tanah, apabila tanah terlalu keras atau liat, akar tidak bisa tumbuh baik pada tanah.
Sebelum digemburkan sebaiknya tanah dibersihkan dari gulma dan rerumputan untuk menghindari penyakit. Setelah itu tanah digemburkan dengan mencangkul sedalam satu cangkulan dengan dibolak-balik. Setelah itu dibuat lubang-lubang tanam sesuai dengan cara tanamnya apakah menggunakan system panjatan tunggal atau sistem kelompok.
Pada sistem panjatan tunggal pengolahan tanah hanya dilakukan disekitar lubang tanam saja, berbeda dengan sistem kelompok pengolahan tanah dilakukan pada seluruh alur barisan tempat penanaman. Media tanam untuk panjatan tunggal menggunakan campuran tanah galian diberi pasir sekitar 5 kg, bubuk bata merah 5 kg, pupuk kandang kering 10 kg dan dolomit 300 g kemudian dicampur sampai merata.
Pada model sistem tanam berkelompok untuk setiap alur sepanjang 4 m media tanamnya yaitu pasir 8 kg, pupuk kandang 20 kg dan bisa ditambahkan bubuk bata merah sebanyak 10 kg apabila tanah terlalu porous. Jika tidak menggunakan bubuk bata merah , jumlah pupuk kandang ditambahkan 10 kg lagi jadi total 30 kg. Ditambah dolomit yang mengandung magnesium sebanyak 600g. Bahan-bahan tersebut dicampur merata pada tanah galian.
Setelah penyiapan media tanam selesai kemudian disiram dan biarkan terkena matahari sampai kering. Pengeringan ini bertujuan agar tanah terbebas dari racun dan penguapan lain.

Sistem Pengairan
Untuk sistem pengairan pada lahan disesuaikan dengan kondisi lahan, system cara tanamnya, dan pengadaan sumber air yang ada disekitar lahan. Bisa menggunakan cara pengairan tradisional yaitu system leb yaitu menggunakan parit sedalam 20 cm yang dibuat disekitar barisan tanaman. Atau juga bisa menggunakan system pengairan pipa yang dibuat sedemikian rupa untuk mengalirkan air pada seluruh tanaman.

Penanaman Pada Lahan
Penanaman bibit lahan tanam yang harus diperhatikan adalah kedalaman yang terlalu dalam malah akan menghambat pertumbuhannya. Kedalaman penanaman adalah 20% dari panjang bibit. Misal bibit yang mau ditanam berukuran panjang 50-80 cm maka kedalamannya sekitar 10-15 cm. Sebelum ditanam sebaiknya bibit setek diolesi Ridomil sebanyak 40 g yang dicampur dengan 1 liter air untuk mencegah kebusukan pada pangkal batang setek.

Sumber: http://pasarflona.wordpress.com

Model Panjatan Buah Naga

Buah naga termasuk tanaman merambat sehingga membutuhkan penopang/panjatan untuk menopang tanaman. Tiang panjatan harus kuat dan mampu bertahan selama beberapa tahun karena usia tanaman buah naga yang panjang. Tiang panjatan dalam penanaman buah naga ada dua macam bentuk/model, yaitu bentuk tunggal dan bentuk kelompok/pagar. Berikut ini penjelasannya :

Tiang Panjatan Bentuk Tunggal
Tiang panjatan bentuk tunggal bisa menggunakan beton dan panjatan hidup/batang tanaman yang hidup. Kedua jenis panjatan ini digunakan untuk menopang sebanyak empat tanaman yang berproduksi dengan produktivitas rata-rata 3 kg per tanaman.
Panjatan yang umum digunakan adalah panjatan tiang beton segi empat berukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 – 2,5 m, bentuk lain dibuat bulat ataupun segitiga. Penggunaan tiang beton lebih baik karena kuat dan tahan lama menahan beratnya tanaman. Kelemahan dari penggunaan tiang dari beton adalah percabangan tanaman dibagian dalam menjadi tidak produktif karena batang buah naga berbentuk segitiga dan bagian yang menempel/ternaungi tidak menghasilkan bunga dan buah.
Panjatan tiang beton ini ditancapkan ditanah dengan cara dicor dengan kedalaman sekitar 30 – 50 cm agar tiang berdiri kokoh dan kuat menyangga tanaman. Pada ujung tiang bagian atas diberi besi melingkar berdiameter sekitar 50 – 60 cm berbentuk seperti stir mobil. Besi lingkaran ini berfungsi sebagai tempat menopang cabang dan anak cabang/tunas. Apabila besi beton dirasa terlalu mahal, bisa menggunakan ban sepeda motor atu bisa juga para-para dari kayu yang dibentuk menyilang.
Alternatif lain selain menggunakan tiang beton, bisa menggunakan tiang panjatan hidup. Artinya, tiang panjatan berupa tanaman hidup yang memiliki perakaran cukup dalam minimal 30 cm dan tanaman tersebut harus tahan pemangkasan berat karena buah naga harus terkena sinar matahari langsung agar bisa berproduksi dengan maksimal. Karena itulah harus sering dilakukan pemangkasan daun apabila sudah menutupi batang dan cabang buah naga. Tiang panjatan hidup harus memiliki tinggi minimal 2 meter dan memiliki diameter minimal 10 cm karena kalau diameter lebih kecil dikhawatirkan tidak kuat menopang tanaman buah naga yang berat. Penggunaan tiang jenis ini lebih hemat biaya daripada tiang beton meskipun tidak sekuat dan tahan lama seperti tiang dari beton.

Tiang Panjatan Bentuk Kelompok (Double Rowing)
Model tiang panjatan ini mirip dengan tiang untuk menjemur pakaian. Dua buah tiang dihubungkan dengan kawat tebal penyangga batang tanaman buah naga dengan jarak antar tiang 4 meter. Tiang terbuat dari semen cor berukuran minimal 10 x 10 cm tinggi 2-2,5 meter termasuk bagian yang terpendam didalam tanah 30 – 50 cm. Pada tiang cor ini diberi pengait sebagai tempat ikatan kawat yang menghubungkan dua tiang yang berfungsi sebagai pengikat batang pokok tanaman buah naga.Jarak antar kawat pengikat batang 50 cm dan 100 cm dari permukaan tanah.Tiang sebaiknya diberi penguat agar tidak miring nantinya ketika menopang beratnya sulur buah naga. Pada ujung tiang dipasang besi beton berukuran 8 inci melintang sepanjang 50 – 60 cm.
Sistem panjatan double rowing ini dengan panjang 4 meter dapat menampung 20 – 26 tanaman buah naga, dibagi sama pada sisi kiri dan kanan. Misal 20 tanaman maka penataannya 10 di sisi kiri dan 10 di sisi kanan. Jarak tanam antar baris 30 cm dan antar tanaman dalam baris juga 30 cm. Dengan penataan seperti itu akan membuat jumlah cahaya diterima dan jumlah sulur yang bertumpuk bisa merata dan seimbang.Sulur yang menghadap cahaya lebih mudah berbuah dan menghasilkan buah 80% kelas A.

Sumber: http://pasarflona.wordpress.com